Festival Mbok Sri 2026 Merawat Tradisi Agraris dan Dorong Regenerasi Petani Klaten

Tradisi dan budaya agraris terus dirawat di Kabupaten Klaten melalui Festival Mbok Sri 2026. Bupati Klaten menghadiri rangkaian Festival Mbok Sri sekaligus mengikuti kegiatan wiwitan yang digelar di Desa Delanggu, Kabupaten Klaten, Minggu pagi (27/9/2026).

Festival Mbok Sri 2026 Merawat Tradisi Agraris dan Dorong Regenerasi Petani Klaten

Festival Mbok Sri merupakan perayaan tahunan budaya tani yang diinisiasi Sanggar Rojolele Delanggu dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional. Tahun ini, Festival Mbok Sri diselenggarakan selama tiga hari, 25–27 September 2026.

Ketua Sanggar Rojolele Delanggu, Eksan Hartanto, mengatakan Festival Mbok Sri 2026 mengangkat tema “Seni Bertahan Petani: Tatag Nyupaya, Jejeg Urip”, yang bermakna teguh dalam berupaya dan tegak dalam menjalani kehidupan. Menurut Eksan, tema tersebut merupakan kelanjutan dari gagasan Festival Mbok Sri pada edisi-edisi sebelumnya yang menempatkan petani bukan sekadar sebagai produsen pangan, tetapi sebagai subjek yang memiliki pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri.

“Bagi kami, mempertahankan kehidupan agraris tidak cukup dilakukan dengan mengajak masyarakat kembali ke sawah. Yang perlu dibangun adalah ekosistem yang memungkinkan kehidupan tersebut tetap memiliki makna dan masa depan,” ungkapnya.

Ekosistem tersebut, lanjut Eksan, mencakup pengetahuan pertanian yang diwariskan, hubungan antarmasyarakat yang dirawat, ekonomi yang berpihak kepada komunitas, serta ruang bagi generasi muda untuk kembali mengenal budaya pertanian dan kehidupan agraris Kabupaten Klaten. Ia menjelaskan, sejak pertama kali diselenggarakan pada 2017, Festival Mbok Sri tidak dirancang semata sebagai festival seni maupun perayaan budaya. Festival tersebut berkembang menjadi ruang untuk pertunjukan, pembelajaran, dan kerja bersama dalam membicarakan kembali kehidupan agraria di Delanggu dan Kabupaten Klaten.

Sejak 2017, festival juga menjadi ruang inisiatif komunitas dan gerakan budaya agraria yang melibatkan kelompok tani, kelompok wanita tani, pemerintah desa, pelaku usaha lokal, komunitas seniman, akademisi lintas disiplin, hingga generasi muda desa.
“Ketika pengetahuan pertanian dibagikan, ketika hasil panen diperdagangkan melalui ruang ekonomi lokal, ketika koperasi dirintis, ketika anak muda diajak mengenal kehidupan agraris, dan ketika masyarakat berkumpul untuk merawat ingatan serta identitasnya,” jelas Eksan.

Eksan berharap Pemerintah Kabupaten Klaten dapat semakin mendukung berbagai inisiatif komunitas tersebut melalui kebijakan yang turut memperkuat kesejahteraan petani.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengapresiasi konsistensi Sanggar Rojolele dalam menghidupkan tradisi dan budaya agraris melalui Festival Mbok Sri. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengingat pentingnya hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan pertanian.
“Alhamdulillah, pada kesempatan pagi hari ini kita masih diberi nikmat sehat dan bisa bersilaturahmi dalam rangka bersama-sama melaksanakan sebuah tradisi yang luar biasa yang dilaksanakan oleh sedherek kami dari Sanggar Rojolele setiap tahun, yaitu Festival Mbok Sri,” tuturnya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Mas Hamenang turut mengikuti tradisi wiwitan. Ia menyampaikan bahwa wiwitan memiliki nilai penting untuk mengingatkan masyarakat agar senantiasa menghormati dan menjaga hubungan dengan alam.
“Kegiatan wiwitan mengingatkan kita semua bagaimana ketika kita bisa menghormati, membersamai alam. Tidak hanya sekadar menanam dan memanen, tetapi juga bisa berdiskusi,” ungkapnya.

Mas Hamenang menegaskan bahwa sektor pertanian perlu terus dipertahankan karena memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan. Ia mengakui tantangan terhadap sektor pertanian tidak semakin ringan, salah satunya terkait ancaman alih fungsi lahan. Namun, Pemkab Klaten telah melakukan langkah perlindungan lahan pertanian melalui penetapan.
“Beberapa waktu lalu disampaikan bagaimana ada permasalahan alih fungsi lahan. Insyaallah berkaitan dengan alih fungsi lahan sudah kita selesaikan dengan kita kunci dengan adanya SK LP2B. Lahan pangan tidak boleh dialihfungsikan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Mas Hamenang mengatakan kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lahan pertanian di Kabupaten Klaten. Selain perlindungan lahan, pemerintah daerah juga terus memberikan dukungan kepada petani melalui berbagai program.
“Setiap tahun kami memberikan stimulan kepada petani agar kemudian lebih bersemangat, dengan cara kami memberikan berbagai macam bantuan. Ada alsintan, ada bibit, ada pupuk dan lain sebagainya,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Mas Hamenang juga menyampaikan apresiasi kepada Sanggar Rojolele dan berbagai pihak yang secara konsisten mengkampanyekan pentingnya mempertahankan identitas agraris Kabupaten Klaten. Menurutnya, sejarah Kabupaten Klaten yang memiliki keterkaitan kuat dengan pertanian dan varietas padi Rojolele perlu terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi muda.
“Kami juga sangat berterima kasih dengan adanya tokoh-tokoh, sosok-sosok, organisasi-organisasi, termasuk dalam hal ini Sanggar Rojolele yang terus dan luar biasa mengkampanyekan bagaimana kemudian kita harus kembali lagi. Kabupaten Klaten ini sejarahnya adalah jaya dengan Rojolele,” ungkapnya.

Terakhir, Mas Hamenang berharap kegiatan seperti Festival Mbok Sri dapat menjadi ruang untuk mengenalkan kembali kehidupan pertanian kepada generasi muda, sekaligus mendorong regenerasi petani.
“Harapannya dari kegiatan ini ke depan, sedherek-sedherek kita terutama generasi muda kita mau berkenan kembali lagi ke sawah untuk kemudian bersama-sama kita mempertahankan sawah kita. Tentu doa kita yang terbaik agar ke depan pertanian kita bisa kembali ke masa jaya,” ujarnya.


(Dokumentasi Pimpinan Bagian Prokopim Setda Kabupaten Klaten)

Dokumentasi/Foto lainnya :

↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓


Click Here To See More

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0