Hibridasi Wayang Kontemporer, Cara Klaten Menjaga Tradisi Menembus Zaman
Rabu malam, (19/8/2026), Pagelaran Hibridasi Wayang Contemporary dalam rangka Hari Jadi ke-222 Kabupaten Klaten dan HUT ke-81 Republik Indonesia digelar di Alun-Alun Kabupaten Klaten. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Klaten sekaligus menghadirkan konsep pertunjukan wayang yang memadukan nilai tradisi dengan kreativitas kontemporer.
Hibridasi wayang kontemporer merupakan bentuk pementasan seni tradisional wayang yang memadukan berbagai unsur seni, gaya, budaya, maupun teknologi dalam satu kesatuan pertunjukan. Perpaduan tersebut dapat berupa kolaborasi berbagai jenis wayang, pencampuran budaya lokal dengan unsur modern, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam penyajiannya.
Ketua penyelenggara, Muh. Natsir, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk apresiasi sekaligus upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya nasional, khususnya wayang, agar tetap hidup, berkembang, dan mampu menjawab tantangan zaman. Pagelaran mengangkat lakon “Sang Gatotkaca” dengan tema “Wayang Tradisi Menjaga Kreativitas Menembus Batas Zaman”. Tema tersebut menggambarkan semangat untuk mempertahankan nilai-nilai luhur wayang sekaligus memberikan ruang inovasi dan kreativitas agar seni wayang tetap dapat dinikmati dan diapresiasi oleh generasi masa kini.
“Hibridasi wayang kontemporer menjadi ruang kreativitas untuk menggabungkan nilai-nilai tradisi dengan gagasan, teknologi, estetika, dan ekspresi seni masa kini,” ujarnya.
Muh. Natsir menambahkan kegiatan tersebut menjadi media pengembangan, pelestarian, sekaligus aktualisasi seni wayang melalui pertunjukan yang inovatif dan kontemporer. Selain melestarikan wayang sebagai warisan budaya bangsa, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat memberikan hiburan serta memperkuat kecintaan masyarakat terhadap seni dan budaya.
Pagelaran ini melibatkan komunitas seni dan budaya serta para seniman dan budayawan Kabupaten Klaten. Sebanyak 222 seniman muda dan pelaku seni turut terlibat dalam kegiatan tersebut, sesuai dengan momentum Hari Jadi ke-222 Kabupaten Klaten.
“Semoga kegiatan ini tidak hanya sebagai sebuah pertunjukan, namun menjadi bagian dari gerakan bersama untuk merawat warisan budaya, mendorong daya kreativitas, memperkuat identitas daerah, dan membawa seni budaya di Klaten menembus batas zaman,” harap Muh. Natsir.
Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyampaikan bahwa pagelaran tersebut menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya konsep hibridasi wayang kontemporer diselenggarakan di Alun-Alun Klaten.
“Ini sesuatu yang istimewa yang baru kali ini kita selenggarakan di Alun-Alun Klaten, yaitu pentas pagelaran hibridasi wayang kontemporer,” ungkapnya.
Mas Hamenang pun mengapresiasi kolaborasi para seniman dan budayawan lintas generasi yang terlibat dalam pertunjukan tersebut. Mulai dari seniman senior dan generasi muda, dalang, sinden, hingga pengrawit bersatu menyajikan pertunjukan dengan konsep yang berbeda dari pagelaran wayang pada umumnya.
“Ini sesuatu yang sangat luar biasa, kolaborasi yang hebat dari para senior, junior, anak muda, kakek, budhe seniman, budayawan, dalang, kemudian juga sinden, pengrawit, komplit semuanya yang kemudian bisa bersatu padu menyajikan sesuatu yang menarik, yang berbeda dari biasanya,” katanya.
Lebih lanjut, Mas Hamenang menyampaikan apresiasi kepada seluruh stakeholder yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, dukungan dan semangat gotong royong dari para seniman dan budayawan menjadi kekuatan penting dalam menghadirkan pertunjukan budaya berkualitas bagi masyarakat.
Ia menilai keberadaan para seniman dan budayawan di Kabupaten Klaten merupakan potensi besar yang perlu terus mendapatkan ruang untuk berkembang. Semangat kolaborasi tersebut juga menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada dukungan anggaran pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi dan gotong royong seluruh elemen masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Mas Hamenang juga mengajak masyarakat untuk mengambil nilai keteladanan dari tokoh Gatotkaca yang menjadi lakon utama. Menurutnya, Gatotkaca merupakan sosok satria yang memiliki semangat perjuangan dan keteguhan.
“Harapannya kita bisa sama-sama meneladani dari tokoh Gatotkaca ini, bagaimana kemudian seni kita di situasi hari ini tidak mudah, tapi kita harus tetap semangat. Hanya dengan tekad, semangat, niat gotong royong, kita bersama-sama bisa melewati fase-fase kehidupan yang ada,” jelasnya.
Terakhir, Mas Hemenang berharap pagelaran hibridasi wayang kontemporer dapat menjadi daya gerak baru bagi perkembangan seni budaya di Kabupaten Klaten. Lebih dari itu, pertunjukan tersebut diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk mengenal, mendalami, dan ikut melestarikan seni budaya daerah.
“Semoga kemudian Bapak Ibu sedaya bisa terhibur dan mendapatkan daya gerak yang baru. Ini kemudian bisa menarik generasi muda kita untuk tertarik mendalami dan melihat kembali wawasan seni budaya yang luar biasa,” pungkasnya.
(Dokumentasi Pimpinan Bagian Prokopim Setda Kabupaten Klaten)
Dokumentasi/Foto lainnya :
↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓
Click Here To See More
What's Your Reaction?