Dari Manusuk Sima I-Upit, Bupati Ajak Masyarakat Menggali Sejarah Kabupaten Klaten

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menghadiri Pagelaran Sendratari Manusuk Sima I-Upit yang digelar di halaman Kantor Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Minggu malam (2/8/2026). Pagelaran tersebut menjadi media edukasi sekaligus pelestarian sejarah lokal yang mengangkat perjalanan panjang Upit sebagai salah satu wilayah penting pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Dari Manusuk Sima I-Upit, Bupati Ajak Masyarakat Menggali Sejarah Kabupaten Klaten

Sendratari Manusuk Sima I-Upit mengisahkan jejak sejarah Ngupit yang dikenal sebagai wilayah dengan masyarakat yang memiliki loyalitas tinggi kepada Kerajaan Mataram Kuno. Berkat tanah yang subur dan sumber air yang melimpah, masyarakat Upit mampu mencapai swasembada pangan, hidup rukun dalam keberagaman, serta berkontribusi menjaga keamanan dan kemakmuran kerajaan. Upit juga berperan dalam mendukung logistik dan memberikan perlindungan kepada prajurit saat penumpasan pemberontakan Rakai Walaing Pu Kumbayoni.

Atas jasa tersebut, Raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala menganugerahkan status Tanah Sima (Perdikan) kepada Upit sebagai bentuk penghargaan, sehingga wilayah tersebut dibebaskan dari kewajiban membayar upeti. Penetapan status tersebut diresmikan melalui upacara Manusuk Sima yang disaksikan para pejabat kerajaan dan tokoh masyarakat, disertai penetapan batas wilayah serta pengucapan Sapatha sebagai jaminan perlindungan atas otonomi dan kemerdekaan Upit.

Dalam sambutannya, Mas mengapresiasi penyelenggaraan sendratari tersebut sebagai langkah penting untuk membangkitkan kembali kesadaran masyarakat terhadap sejarah Kabupaten Klaten.
"Luar biasa sekali Sendratari Manusuk Sima Upit ini. Ini membuktikan bahwa sekarang kita sudah mulai bangun dari tidur panjang. Kabupaten Klaten ternyata tidak hanya memiliki usia 222 tahun. Kalau Ngupit saja sudah berusia sekitar 1.160 tahun, tentu sejarah peradaban di wilayah ini jauh lebih tua dan perlu terus kita gali bersama," ujarnya.

Mas Hamenang mengatakan, Sendratari Manusuk Sima I-Upit diharapkan menjadi awal lahirnya semangat baru dalam menggali, meneliti, dan mengenalkan sejarah Kabupaten Klaten kepada masyarakat luas. Menurutnya, masih banyak potensi sejarah yang perlu diungkap sebagai bagian dari identitas daerah. Ia juga menyampaikan bahwa pengembangan sektor pariwisata ke depan tidak cukup hanya mengandalkan destinasi wisata, tetapi harus diperkuat dengan kekayaan sejarah, seni, dan budaya yang dimiliki Kabupaten Klaten.

"Hari ini Alhamdulillah Kabupaten Klaten telah menjadi tujuan wisata nomor dua di Provinsi Jawa Tengah. Ke depan kita tidak hanya menjual objek wisata, tetapi juga mengembangkan sejarah dan budaya yang diwariskan para leluhur. Semua itu kita tampilkan agar pariwisata Klaten tidak sekadar menjadi tren, tetapi mampu tumbuh secara berkelanjutan," ungkapnya.

Lebih lanjut, Mas Hamenang optimistis, upaya pelestarian sejarah yang dimulai dari Desa Kahuman melalui Sendratari Manusuk Sima I-Upit akan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus mengangkat nilai-nilai sejarah dan budaya lokal.
"Saya yakin, berawal dari Ngupit, berawal dari Desa Kahuman, insyaallah Klaten ke depan akan semakin bersinar," pungkasnya.


(Dokumentasi Pimpinan Bagian Prokopim Setda Kabupaten Klaten)

Dokumentasi/Foto lainnya :

↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓


Click Here To See More

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0