Simulasi Evakuasi Mandiri, Perkuat Kesiapsiagaan Warga Hadapi Erupsi Merapi
Bupati Klaten bersama jajaran Forkopimda Kabupaten Klaten menyaksikan simulasi evakuasi mandiri dan pertolongan di gunung dan hutan di Pawon Wana Merapi, Kalitalang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kamis (8/10/2026). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian Bulan Pengurangan Risiko Bencana yang dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, khususnya erupsi Gunung Merapi.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Klaten, Syahruna, mengatakan kegiatan diawali dengan pelatihan penyelamatan di gunung dan hutan yang kemudian dilanjutkan dengan simulasi evakuasi mandiri. Syahruna menambahkan Desa Balerante dipilih sebagai lokasi kegiatan karena wilayah tersebut memiliki pengalaman langsung menghadapi erupsi Merapi, khususnya pada erupsi tahun 2010 yang menyebabkan kerusakan cukup besar.
“Untuk kegiatan pelatihan, pesertanya kurang lebih 60 orang. Mereka berasal dari unsur TNI, Polri, taman nasional, relawan, perangkat desa, termasuk relawan kecamatan,” jelasnya.
Selain itu, simulasi evakuasi mandiri penting dilakukan mengingat sebagian wilayah di kawasan Gunung Merapi berada dalam kawasan rawan bencana (KRB) dan memiliki jarak yang cukup jauh dari pusat pemerintahan maupun posko penanganan bencana.
“Kalau terjadi erupsi, waktunya bisa hitungan detik, menit, maupun jam. Apabila evakuasi harus menunggu bantuan dari bawah, tentu risikonya akan semakin besar. Mau tidak mau, masyarakat di atas harus diberdayakan agar menjadi pihak pertama yang mampu melakukan penyelamatan ketika terjadi bencana,” ungkap Syahruna.
Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyampaikan apresiasi kepada seluruh stakeholder yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kesiapsiagaan merupakan salah satu kunci penting dalam mengurangi risiko korban ketika bencana terjadi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh stakeholder yang terlibat pada hari ini. Kesiapsiagaan terhadap bencana, khususnya erupsi Merapi, bisa kita tingkatkan. Harapan kami, warga masyarakat menjadi lebih siap siaga, relawan semakin memahami bagaimana cara menanggulangi bencana, dan kita bisa mengetahui melalui simulasi ini apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi,” tuturnya.
Mas Hamenang menegaskan, simulasi menjadi penting agar masyarakat tidak panik ketika menghadapi kondisi darurat. Setiap pihak diharapkan memahami peran dan tanggung jawab masing-masing, termasuk mengetahui titik kumpul dan jalur evakuasi.
“Kalau kita sudah paham siapa harus berbuat apa dan di mana titik-titik kumpulnya, maka kita bisa meminimalisir risiko korban akibat lambatnya penanganan maupun kurangnya pemahaman masyarakat,” katanya.
Menurut Mas Hamenang, pelatihan yang diberikan oleh Basarnas telah memberikan bekal penting bagi para peserta. Hal tersebut terlihat saat peserta mampu mempraktikkan berbagai tahapan penanganan dalam simulasi, mulai dari evakuasi korban hingga skenario peningkatan status Gunung Merapi menjadi awas.
“Luar biasa sekali. Pelatihan dari Basarnas ini terbukti sangat bermanfaat. Saudara-saudara kita yang berjumlah kurang lebih 60 orang, setelah dilatih dan kemudian dipraktikkan, mampu menjalankan tugas masing-masing. Mulai dari evakuasi korban hingga ketika terjadi peningkatan status menjadi awas, semua bergerak sesuai dengan tugasnya,” ungkapnya.
Mas Hamenang juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Balerante yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan. Ia berharap budaya kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bencana terus dijaga, sehingga masyarakat dapat bertindak cepat dan tepat ketika kondisi darurat terjadi.
“Untuk warga masyarakat, terima kasih atas kolaborasinya hari ini. Ke depan kita harus selalu waspada. Kalau terjadi bencana, kita sudah tahu apa yang harus dilakukan dan tinggal menjalankan sesuai dengan apa yang sudah dilatih hari ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mas Hamenang juga mengapresiasi dukungan Kementerian ESDM dalam pemasangan dan pengadaan sirene peringatan dini di kawasan Kalitalang. Menurutnya, keberadaan sirene menjadi bagian penting dalam sistem peringatan dini bagi masyarakat. Dalam simulasi, sirene menjadi salah satu tanda awal bagi warga untuk mengetahui adanya potensi kondisi darurat dan segera melakukan langkah evakuasi sesuai prosedur.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian ESDM yang sudah membantu pemasangan dan pengadaan sirene. Ini tentu sangat membantu masyarakat. Dalam simulasi tadi, salah satu tanda awal warga mengetahui terjadinya bencana adalah dengan adanya sirene,” jelasnya.
Terakhir, Mas Hamenang mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga fasilitas sirene tersebut agar selalu dalam kondisi baik dan dapat berfungsi ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.
“Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian ESDM. Kami juga mengajak warga masyarakat untuk bersama-sama menjaga sirene ini agar pada saatnya memang harus dibunyikan, bisa berfungsi dengan baik,” pungkasnya.
(Dokumentasi Pimpinan Bagian Prokopim Setda Kabupaten Klaten)
Dokumentasi/Foto lainnya :
↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓
Click Here To See More
What's Your Reaction?